Belajar Dari Cara Hidup Bunda Maria dalam Menemukan Harapan di Tengah Bencana
Fransiskus Sehadun
3 min read


Belajar Dari Cara Hidup Bunda Maria dalam Menemukan Harapan
di Tengah Bencana
Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa hidup manusia sangatlah rapuh. Hujan deras yang berubah menjadi banjir bandang, tanah yang tiba-tiba longsor, serta hilangnya rumah dan nyawa telah meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga. Di tengah berita duka itu, kita sering bertanya: di mana kita dapat menemukan kekuatan untuk bertahan? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Gereja merayakan Hari Orang Kudus sebuah momen yang mengarahkan kita untuk menengok teladan hidup para santo dan santa, termasuk Bunda Maria yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah keselamatan.
Bunda Maria bukanlah sosok yang hidup dalam kenyamanan atau tanpa pergumulan. Sejak awal panggilannya, hidupnya penuh ketidakpastian dan penderitaan. Ia menerima kabar gembira ketika usianya masih muda, di tengah budaya yang bisa menghukum perempuan karena hamil di luar pernikahan. Ia hidup sebagai pengungsi di Mesir, jauh dari kampung halaman, tanpa kepastian tentang masa depannya. Ia juga menyaksikan Putranya sendiri dihukum secara tidak adil dan wafat secara tragis di hadapannya. Namun, dari semua pengalaman itu, Maria menunjukkan satu kualitas yang sangat kuat: keteguhan iman. Ia tetap percaya, tetap berdiri, dan tetap mengandalkan Allah meskipun hidupnya berada dalam situasi yang gelap.
Keteguhan inilah yang sangat relevan bagi masyarakat yang hari ini sedang berduka akibat bencana di Sumatera. Banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga, atau kehilangan harapan tentang masa depan. Dalam keadaan seperti ini, Maria menjadi simbol bahwa manusia tetap dapat bertahan, bahkan ketika dunia di sekelilingnya runtuh. Iman bukan menjauhkan seseorang dari penderitaan, tetapi memberi kekuatan untuk melewatinya. Bagi mereka yang kini sedang berada di pengungsian atau sedang memulai hidup dari awal, teladan Maria adalah pengingat bahwa kesedihan bukan titik akhir dari sebuah perjalanan. Namun kehadiran Maria dalam kehidupan umat beriman bukan sekadar simbol keteguhan, tetapi juga penghiburan. Dalam tradisi Gereja, ia dikenal sebagai Bunda Penghibur, ibu yang mendampingi dan menguatkan anak-anaknya. Ketika kata-kata manusia tidak mampu lagi menenangkan hati yang patah, doa kepada Maria menjadi pelukan batin yang menghangatkan. Dalam situasi bencana, banyak orang membutuhkan penghiburan semacam ini—penghiburan yang tidak menghapus duka, tetapi memberi keberanian untuk melangkah lagi.
Walau demikian, refleksi tentang Bunda Maria tidak boleh berhenti pada sisi spiritual saja. Maria adalah teladan kasih yang bergerak, bukan kasih yang diam. Kunjungan Maria kepada Elisabet menjadi gambaran bahwa iman yang sejati menuntut tindakan nyata. Maka, bencana di Aceh dan Sumatera seharusnya menjadi panggilan bagi kita semua untuk menunjukkan solidaritas. Bantuan, donasi, kehadiran, doa, atau perhatian kecil adalah wujud nyata dari iman yang bekerja. Di sinilah kekudusan menemukan bentuk paling konkret: ketika seseorang memilih untuk peduli pada penderitaan yang bukan miliknya. Selain itu bencana juga mengingatkan kita akan tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Tidak sedikit bencana yang terjadi karena kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan keselamatan alam. Dalam konteks ini, teladan hidup Maria yang sederhana dan bijaksana mengajak kita untuk kembali menghormati bumi sebagai rumah bersama. Gereja pun berulang kali menekankan bahwa merusak alam berarti menyakiti sesama manusia. Artinya, doa saja tidak cukup; perlu perubahan pola hidup dan kebijakan yang menghargai keberlanjutan alam.
Ketika penderitaan berakhir, pekerjaan besar lain dimulai: membangun kembali kehidupan. Dan sekali lagi, Maria memberikan inspirasi. Setelah Putranya wafat, ia tidak larut dalam kesedihan, tetapi hadir bersama para murid untuk membangun Gereja yang baru. Ia menjadi sumber kekuatan bagi komunitas yang sedang kehilangan arah. Bagi masyarakat di daerah bencana, ini menjadi gambaran bahwa proses bangkit dan membangun membutuhkan kesabaran, kebersamaan, dan semangat yang kokoh. Pada akhirnya, Hari Orang Kudus dan teladan Bunda Maria mengajarkan bahwa kekudusan bukan sesuatu yang jauh atau eksklusif. Kekudusan hadir dalam tindakan-tindakan sederhana: dalam empati, dalam keberanian, dalam menjaga lingkungan, dalam saling menopang, dan dalam keteguhan menghadapi musibah. Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan kemanusiaan kita. Dengan meneladani Maria, kita diajak untuk memulihkan bukan hanya wilayah yang rusak, tetapi juga hati kita sebagai sesama manusia.
Penulis
Fransiskus, S











