Berhenti Menolak Sesama Berdasarkan Cara Pandang Kita
Fransiskus Sehadun



Dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk, cara pandang menjadi kunci dalam membentuk relasi antarindividu. Namun, justru di titik ini kita kerap menemui persoalan mendasar. Banyak orang dengan mudah menolak kehadiran sesama hanya karena perbedaan pandangan, latar belakang, atau cara hidup. Penolakan itu tidak selalu tampak dalam tindakan keras sering kali hadir dalam bentuk lebih halus: mengabaikan, meremehkan, atau menjaga jarak tanpa alasan jelas. Kita menilai seseorang bukan dari siapa ia sebenarnya, tetapi dari apa yang kita pikirkan tentang dirinya. Inilah bias yang secara perlahan merusak ruang sosial yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya saling percaya.
Fenomena tersebut juga terlihat dalam baik dalam keluarga, lingkungan sekitar, organiasi, lingkungan kerja. Ada orang yang tidak diberi kesempatan karena masa lalunya dianggap kurang sesuai, atau karena ia tidak menempati posisi penting dalam struktur organisasi. Ada pula yang direndahkan hanya karena cara berbicara atau latar belakang pendidikan yang dianggap lebih rendah. Penolakan semacam ini muncul bukan karena fakta objektif, tetapi karena cara pandang sempit yang didominasi prasangka. Kita lupa bahwa manusia tidak bisa dibaca hanya dari sampul luarnya. Setiap individu membawa perjalanan panjang yang membentuk dirinya perjuangan yang sering kali tidak terlihat dan tidak pernah diceritakan.
Injil hari ini memberikan perspektif yang kontras dengan kenyataan tersebut. Yesus memuji Yohanes Pembaptis sebagai figur besar yang diutus Allah, tanpa sedikit pun merasa tersaingi oleh pengaruh Yohanes di tengah masyarakat. Penilaian Yesus tidak ditentukan oleh penampilan Yohanes yang keras atau masa lalunya, melainkan oleh ketulusan misinya. Teladan ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap sesama lahir dari pengakuan akan nilai dan panggilan seseorang, bukan dari kecocokan terhadap pola pikir pribadi. Sikap ini jarang terlihat dalam interaksi sosial kita, yang sering dibentuk oleh ketakutan: takut tersaingi, takut kehilangan posisi, atau takut bahwa kehadiran orang lain akan menggeser kenyamanan yang sudah kita miliki.
Di tengah budaya yang semakin kompetitif, rasa takut itu semakin mudah tumbuh. Banyak orang merasa terancam ketika melihat sesamanya lebih unggul, lebih kreatif, atau lebih dipercaya. Ketakutan itu kemudian memunculkan reaksi defensif: menolak bekerja sama, mengkritik secara berlebihan, atau bahkan mengasingkan orang tertentu dari lingkaran sosial. Padahal, kerja bersama tidak pernah mengurangi nilai diri siapa pun. Keunggulan orang lain bukan ancaman; justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat komunitas. Membuka diri terhadap kehadiran sesama bukan berarti melepas identitas pribadi, tetapi menegaskan bahwa kita cukup dewasa untuk melihat kekuatan orang lain sebagai pelengkap, bukan pesaing.
Mengubah cara pandang tentu tidak mudah. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa penilaian kita sering tidak tepat. Dibutuhkan keberanian untuk menerima bahwa setiap orang memiliki masa lalu dan proses yang harus dihormati. Kita tidak pernah tahu perjuangan apa yang membawa seseorang sampai pada titik hidupnya sekarang. Dengan berhenti menolak sesama berdasarkan cara pandang kita, kita sedang menata ulang relasi sosial yang lebih sehat: relasi yang dibangun di atas penghargaan, bukan prasangka; di atas rasa ingin tahu, bukan asumsi; di atas dialog terbuka, bukan penilaian sepihak. Dan mungkin, di titik inilah kita benar-benar mempraktikkan nilai kemanusiaan yang sering kita ucapkan, tetapi jarang kita jalani.
Berhenti Menolak Sesama Berdasarkan Cara Pandang Kita











