Jangan Berhenti Menabur kebaikan Walaupun Terabaikan: Belajar dari Seorang Gembala yang Mencari yang Hilang

2 min read

Jangan Berhenti Menabur kebaikan Walaupun Terabaikan

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak jarang merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kita membantu, mengarahkan, memberi waktu, tenaga, bahkan materi, namun respons yang kembali kerap tidak sebanding. Ada yang pura-pura lupa, ada yang pergi setelah tujuan tercapai, ada yang hanya datang ketika membutuhkan. Dalam momen-momen seperti ini, hati manusia sangat mudah merasa kecewa, bahkan mulai bertanya, Untuk apa aku berbuat baik kalau akhirnya tidak dianggap? Kekecewaan itu wajar, sebab manusia memang memiliki keinginan untuk dihargai. Tetapi justru di sinilah kita diuji: apakah kebaikan kita lahir dari harapan akan balasan, atau dari ketulusan hati?
     Injil hari ini memberikan gambaran yang sangat indah dan relevan. Yesus mengisahkan seorang gembala yang rela meninggalkan sembilan puluh sembilan domba demi mencari satu domba yang tersesat. Gembala itu tidak bertanya apakah domba itu layak dicari, tidak mengeluh betapa merepotkannya domba yang hilang itu, bahkan tidak menuntut balasan apa pun. Ia hanya pergi, menyusuri lembah dan bukit, mencari sampai menemukan. Dan ketika ia berhasil menemukannya, ia justru bersukacita dan bergembira.
     Pelajaran yang halus tapi kuat dari kisah ini adalah bahwa cinta selalu bergerak menuju mereka yang lemah, tersesat, atau terabaikan. Kebaikan tidak pernah berhenti hanya karena tidak dihargai; ia terus berjalan karena itulah hakikatnya. Jika kita melihat kehidupan hari ini, begitu banyak orang di sekitar kita yang seperti domba tersesat yang kehilangan arah, kehilangan harapan, tersandung oleh persoalan hidup, terjerat kemiskinan, atau tertimpa bencana seperti saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan materi mereka membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi gembala kecil, yang mau menemani, menguatkan, menuntun, dan tidak menghakimi. Ketika kita menuntun seseorang menemukan jalan hidupnya kembali, membantu mereka mendapatkan beasiswa, pekerjaan, atau sekadar keberanian untuk bangkit, kita sedang menghidupi semangat Injil itu sendiri. Mungkin mereka tidak kembali berterima kasih, mungkin nama kita tidak disebut, tetapi kebaikan yang kita taburkan sedang mengangkat satu jiwa dari keterpurukan.
    Karena itu, jangan berhenti berbuat baik meskipun kebaikan itu sering terabaikan. Di hadapan Tuhan, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Kita mungkin tidak mendapatkan balasan dari orang yang sama, tetapi kita akan menerima berkat dalam bentuk yang jauh lebih besar baik berupa kesehatan, kedamaian hati, keberhasilan yang tidak disangka, bahkan kekuatan untuk terus berjalan. Seorang gembala tidak pernah menghitung untung rugi ketika mencari dombanya; ia hanya mengikuti suara kasih. Demikian pula kita: teruslah menjadi gembala kecil bagi sesama, teruslah menolong tanpa menghitung balasan, dan teruslah percaya bahwa Tuhan melihat setiap langkah kecil yang kita lakukan. Pada akhirnya, bukan penghargaan manusia yang menyempurnakan hidup kita, melainkan kasih Tuhan yang bekerja melalui setiap kebaikan yang kita pilih untuk lakukan.